Tempat Kelahiranku

Kota kelahiranku adalah Kota Kudus. Kota Kudus adalah kecamatan yang berada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Ibu kota Kabupaten Kudus terletak di kecamatan ini. Kecamatan ini disebut sebagai Kecamatan Kota, karena kawasan perkotaan di Kabupaten Kudus berada di kecamatan ini. Kota Kudus juga disebut sebagai kota kretek. Dan juga disebut sebagai kota santri. Hal ini dikarenakan Kota Kudus adalah pusat perkembangan agama Islam pada abad pertengahan. Hal ini dapat dilihat dari adanya tiga makam wali/sunan, yaitu Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kedu. Kota kudus juga memiliki pusat wisata yaitu Menara Kudus dan Museum Kretek. Ada juga beberapa makanan khas dari kota kudus.

Yang pertama saya akan menceritakan tentang mengapa kota ini dinamakan Kota Kudus. Sejarah dari Kota Kudus tentunya tidak lepas dari Sunan Kudus. Karena keahlian dan ilmunya, maka Sunan Kudus diberi tugas memimpin para Jamaah Haji, sehingga beliau mendapat gelar “Amir Haji” yang artinya orang yang menguasai urusan para Jama’ah Haji. Atas jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah Wilayah, yaitu pemberian wewenang menguasai suatu daerah di Palestina. Pemberian wewenang tersebut tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus. Sunan Kudus memohon kepada Amir Palestina yang sekaligus sebagai gurunya untuk memindahkan wewenang wilayah tersebut ke pulau Jawa. Permohonan tersebut dapat disetujui dan Ja’far Shoddiq pulang ke Jawa. Setelah pulang, Ja’far Shoddiq mendirikan Masjid di daerah Kudus pada tahun 1956 H atau 1548 M. Semula diberi nama Al Manar atau Masjid Al Aqsho, meniru nama Masjid di Yerussalem yang bernama Masjidil Aqsho. Kota Yerussalem juga disebut Baitul Maqdis atau Al-Quds. Dari kata Al-Quds tersebut kemudian lahir kata Kudus, yang kemudian digunakan untuk nama kota Kudus sekarang.

Kota Kudus juga disebut sebagai kota kretek. Ini dikarenakan kota kudus adalah kota penghasil rokok terbesar di Jawa Tengah. Hal ini juga berawal dari H. Jamhari saat sesak nafasnya kumat, ia mengambil minyak cengkeh, dioleskan di dada dan tubuhnya. Hasilnya, sesak dari H. Jamari reda dan hilang. Dari sinilah, Ia punya pemikiran mencampur bunga cengkeh langsung ke dalam tembakaunya, kemudian dihisap (dirokok). Ketika dibakar, lintingan tersebut berbunyi kretek, kretek, kretek, maka campuran itu kemudian hingga hari ini dikenal sebagai kretek. Berita itu menyebar, hingga H. Jamhari tiap hari banyak orang disekelilingnya yang mengalami sakit serupa minta tolong dibuatkan rokok yang bercengkeh, hal ini terjadi sekitar abad 19an saat rokok belum terkenal pada saat itu. Setelah itu rokok diproduksi besar-besaran oleh H. Nitisemito. Satu-satunya industri di Indonesia yang bisa bertahan lama pada masa penjajahan, dibanding industri lain yang hanya bisa bertahan seumur jagung, seperti industri konveksi (produksi pakaian jadi) di Surabaya dan juga di Kudus. Industri rokok kretek H. Nitisemito bangrut gara-gara diakuisisi penjajah setelah ketahuan ikut serta membiayai dan menyembunyikan para gerilya melawan penjajah, jatuhnya industri rokok kretek milik H. Nitisemito, tidak melemahkan niat orang Kudus memproduksi rokok kretek. Justru sebaliknya, makin banyak orang-orang Kudus bermunculan membangun industri rokok kretek. Karena, makin banyak permintaan, sampai keluar negeri.

Kota Kudus juga memiliki makanan khas seperti

  • Soto Kudus
  • Jenang Kudus
  • Sate kerbau
Jenang Kudus dan Soto Kudus adalah 2 dari beberapa makanan khas dari kota kudus yang terkenal. Jenang kudus adalah makanan sejenis dengan dodol garut. Makanan ini merupakan makanan has sekaligus makanan oleh oleh dari Kota Kudus. Jenang ini biasanya dijual dalam potong-potongan kecil, biasanya dibungkus dengan plastik, dan dimasukkan kedalam mika. Jenang umumnya dibuat dari tepung beras atau tepung ketan lalu dimasak dengan santan dan ditambahkan gula merah atau gula putih. Soto kudus juga merupakan makanan khas kudus yang terkenal. Soto Kudus hampir mirip dengan soto lamongan dan berisi suwiran ayam dan tauge. Terkadang soto kudus juga menggunakan daging kerbau dan kuahnya lebih bening. Soto kudus dalam penyajiannya memiliki tradisi dihidangkan dalam mangkuk kecil untuk satu porsi soto.

Menara Kudus adalah masjid kuno yang dibangun oleh Sunan Kudus sejak tahun 1549 Masehi. Lokasi saat ini berada di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang berada di Kudus, Jawa Tengah, ini memiliki arsitektur unik, yakni perpaduan Hindu-Jawa dengan Islam. Masjid bersejarah yang juga disebut dengan Masjid Al Aqsha dan Masjid Al Manar ini sudah eksis ada sejak tahun 1549. Letaknya berlokasi di Kecamatan Kauman, Kota Kudus, Jawa Tengah. Pendiri Masjid Kudus adalah Sunan Kudus atau Syekh Ja'far Shodiq.Sama seperti masjidnya, Menara Kudus juga didirikan oleh Sunan Kudus sebagai simbol dalam candrasengkala "gapuro rusak ewahing jagad". Sunan Kudus sendiri adalah salah satu dari Walisongo atau para ulama yang mempelopori dakwah Islam di Jawa. Sunan Kudus pernah menjadi senopati di Kesultanan Demak, kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa yang sekaligus meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Selain itu, Sunan Kudus juga dikenal sebagai ahli hukum Islam.

Comments

Popular Posts